Senin, 02 Desember 2013

My First Love In The Rain

“Asik, hujaaannn!!!” Seru Caca setelah membuka tirai jendela kamarnya.
“Terimakasih!!” kata Caca lagi sambil mencium boneka Teru Teru Bozu nya yang digantung di sisi jendela namun dalam keadaan terbalik.
Boneka Teru teru bozu adalah boneka tradisional jepang buatan tangan yang konon katanya boneka ini adalah boneka penangkal hujan. Namun Caca sengaja menggantungkan bonekanya terbalik karena dia berharap hujan esok hari. Cara ini dia dapat dari buku komik yang suka dia baca.
“Hujannya gak terlalu deras.. cukup bawa payung” kata Caca sambil mengambil payungnya dan berangkat sekolah
Karena hari ini hujan, dia berangkat ke sekolah naik bis. Biasanya dia naik tukang ojek langganannya. Setelah duduk di kursi penumpang, Caca menolah ke kanan kirinya seperti mencari seseorang. Senyumnya kembali mengembang ketika dia menemukan seseorang yang dicarinya.
Seorang anak laki-laki memakai seragam SMA yg ditutupi jaket sedang duduk satu kursi di depannya sambil menatap keluar jendela. Dialah alasan mengapa Caca selalu mengharapkan hujan di pagi hari. Dia akan bertemu laki-laki ini di bis. Caca pernah di beri tempat duduk oleh laki-laki itu di tengah bis yang penuh dengan penumpang karena hujan yang sangat deras. Sejak saat itu dia selalu menanti hujan dan ingin selalu bertemu laki-laki itu. Ada rasa bahagia tersendiri baginya.
Sepanjang perjalanan Caca terus memandangi laki-laki itu ingin rasanya dia duduk di kursi kosong di sebelahnya dan mengajaknya bicara. Setidaknya menanyakan siapa namanya. Namun dia tidak mempunyai cukup keberanian. Apalagi Caca masih berseragam SMP dan umurnya juga lebih muda dari siswa SMP lainnya, karena Caca mengikuti program akselerasi sewaktu SD dan kini pun dia juga berhasil masuk kelas akselerasi. Alhasil di umurnya yang masih 16 tahun nanti caca sudah lulus SMA.
Bus pun berhenti di sebuah halte, laki-laki itu dan beberapa penumpang lain turun, tak jauh dari situ ada SMA negeri.
Caca terus mengarahkan pandangannya kepada laki-laki itu.
“oh sekolahnya di situ..” gumam Caca
“semoga besok hujan lagi” kata Caca dalam hati sambil tersenyum
“gak kerasa ya sebentar lagi SMA..” kata Mama Caca di tengah makan malam
“Iya lah ma.. Caca kan sekolahnya cuma dua tahun, makanya kerasa cepat” jawab Caca setelah menelan makanan di mulutnya.
“Caca, inget ya.. Mama sama Papa gak maksain kamu untuk ikut akselerasi.. Jadi Caca belajarnya jangan terlalu dipaksa” Kata papa Caca
“iihhh iya pah, mah.. Caca santai aja kok belajarnya, Anak papah sama mamah ini emang dari sananya pinter” Jawab Caca dengn wajah lugunya yang membuat kedua orangtuanya tersenyum
“iya.. selain pinter belajarnya juga pinter main game sampai tengah malem.. Persis kayak Papahnya dulu” cetus mama
“ish mama..” protes Caca
“iya iya.. anak papa deh~ Caca nanti kalo SMA nya di luar kota mau ya?”
“hah?” Kata Caca yang melongo menatap ayahnya karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar tadi
“iya, Papah di tempatkan di Kalimantan.. Kita akan pindah ke sana, Tapi Papah minta di undur sampai Caca lulus dan bisa sekalian langsung daftar sekolah di sana” kata papah yang menjelaskan maksudnya.
Caca terdiam.. dia teringat pada laki-laki di bus yg menjadi semangatnya. Dia tidak akan melihatnya lagi.
“Caca gak papa kan?” Tanya mama Caca yang memperhatikan Caca yang termenung
“ah gak apa ma” jawab Caca sambil tersenyum
Caca duduk termenung di tepi tempat tidurnya, dia terus memikirkan lelaki di bus yang menjadi semangatnya. Laki-laki yang terus ada di pikirannya, namun dia tak pernah mempunyai keberanian untuk menyapanya, apalagi menanyakan namanya.
Sebentar lagi Caca pindah dari sini, itu berarti dia tidak lagi bertemu laki-laki itu di bus di hari hujan, dia tidak lagi menggantung boneka teru teru bozu secara terbalik di tepi jendela, dia tidak lagi mengharap hujan, dia tidak lagi menatapi laki-laki itu di bis sambil senyum-senyum sendiri. Bagaimana hidupnya nanti tanpa semua itu? Bagaimana bisa dia bersemangat seperti biasanya lagi. Padahal ini kali pertamanya dia merasakan perasaan seperti ini kepada laki-laki. Perasaan yang membuat nafasnya sesak.
“Ya tuhan, aku ingin bertemu dia sekaliii saja.. minimal aku tau namanya..” kata Caca sambil membuat boneka teru teru bozu labih banyak dari biasanya.
Pagi hari yang cerah biasanya membuat orang-orang bersemangat memulai aktivitasnya, namun tidak untuk Caca, hari cerah di pagi hari beberapa minggu terakhir ini membuatnya resah. Hari dimana dia akan pindah semakin dekat. Dia takut jika dia tidak bisa bertemu laki-laki itu lagi dan cinta pertamanya berakhir begitu saja. Teru Teru Bozu yang dia buat terus di gantungnya di tepi jendela dan terus bertambah jumlahnya. Namun sepertinya tidak berhasil.
Ujian sudah selesai, Hujan juga tak kunjung datang. Beberapa hari lagi Caca akan pindah. Dia berencana akan mencari laki-laki itu di depan SMA nya. Walaupun cerita cinta pertamanya akan berakhir tapi dia akan mengakhirinya dengan cara yang dia inginkan. Kebetulan Caca pulang cepat karena pasca ujian. Di depan gerbang SMA Negeri itu Caca berdiri sambil melihat satu persatu wajah siswa yang keluar masuk sekolah. Berharap seseorang yang dia pikirkan itu berjalan keluar sekolah.
Hari semakin siang, Cuaca makin panas, sudah dua jam Caca berdiri di situ namun dia tak mau menyerah.
“Adek nyari siapa? Dari tadi berdiri di sini” tegur seorang satpam
“Saya nunggu kakak saya pak” jawab Caca dengan sedikit berbohong.
Tak lama ada siswa yang keluar dari sekolah itu sambil mengendarai motor besar tanpa menggunakan helm. Dia laki-laki yang di cari Caca.
“kakaaak” panggil caca sambil mengejar motor berwarna merah
Mendengar ada yg memanggilnya, laki-laki itu pun menepi. Dan Caca berlari menghampirinya.
“Siapa ya?”
“Maaf kak.. saya yang dulu pernah kakak kasih tempat duduk di bis..” kata Caca yang masih mengatur nafasnya.
Laki-laki itu terdiam sebentar..
“ah iya.. ingat. Kenapa ya?”
“saya ingin memberi ini..” kata Caca sambil mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya dan memberikannya. Laki-laki itu menerimanya tapi masih terdiam karena tidak mengerti.
“Nama kakak siapa?” Tanya Caca
“Yoga. Ini apa?” Jawab laki-laki itu sambil membuka kotak yang isinya tiga buah boneka Teru Teru Bozu.
“Kak Yoga.. Caca minta maaf karena tiba-tiba ngasih ini. Kak terimakasih, karena sudah jadi semangat buat Caca”
“maksudnya?” Yoga semakin tidak mengerti
“Semenjak kita ketemu di bis hari itu, Caca selalu kepikiran kakak. Selama ini Caca menggantung terbalik teru teru bozu di kamar Caca agar selalu hujan di pagi hari. Karena kalau hujan, Caca bisa ketemu kakak di bis. Rasanya ada yang berbeda kalau Caca liatin kakak. Tapi sebentar lagi Caca mau SMA ke Kalimantan, itu berarti Caca nda ketemu kakak lagi. Caca nyari kakak Cuma buat bilang ini aja kok.. Maaf ya kak. Setelah hari ini Caca nda akan lagi menggantung terbalik Teru Teru Bozu”
Yoga tersenyum setelah mendengar kata-kata Caca yang polos.
“Nda usah minta maaf.. iya iya Makasih juga ya dek..? Kamu akselerasi ya?” Tanya Yoga
“iya, kok tau kak..”
“Pantes, masih lugu” jawab yoga sambil mengelus kepala Caca
“Oke ini Aku simpan. Makasih ya?” kata Yoga lagi sambil tersenyum kemudian pergi dengan motornya.
Ada perasaan lega di hati Caca setelah bicara pada Yoga. Biarpun nantinya Dia tidak akan bertemu lagi, yang penting cerita cinta pertamanya tidak berakhir menyedihkan.
“Caca, nanti kalau di terima telpon mama lagi ya?” kata mama Caca dari telpon
“iya mama, pengumumannya nanti siang” Jawab Caca
“Kalau sudah langsung balik ke kos ya? Jangan kemana mana ya?” kata mamanya lagi
“iya mama..”
“Makannya jangan lupa ya Caca! Jangan sampai telat!” Kata mamanya lagi.
“Iya iya mamaku tersayang.. Caca baru dua hari loh~ di sini” jawab caca
“hehe.. iya deh bye sayang”
“bye maa”
Caca mematikan telfonnya. Dan kembali duduk menanti pengumuman penerimaan Mahasiswa baru. Setelah 3 tahun SMA di Kalimantan kini Caca kembali untuk kuliah di Universitas dekat dengan SMP nya dulu.
Cuaca yang mendung dan dingin membuat Caca ingin ke toilet, dia pun berkeliling mencari toilet. Akhirnya Caca menemukan toilet setelah bertanya kepada beberapa kakak tingkat di situ. Setelah dari toilet, Caca melewati lorong yang banyak loker di pinggir nya. Loker khusus Mahasiswa semester akhir. Di ujung loker ada dua mahasiswa yang sedang berbincang di depan sebuah loker yang terbuka.
Tak sengaja Caca mendengar pembicaraan mereka
“Bray, sebelum gue ninggalin lo yang belum lulus nih, gue mau nya” kata cowok yang memakai kaos biru tua.
“Gaya lo! Apaan ?” Tanya cowok yang memakai kaos warna hitam
“Dari dulu gua penasaran, ntu boneka putih aneh jelek lo cantol mulu di loker! boneka apaan sih! Lo gantung terbalik lagi Ngeri tau! kayak pocong!” Tanya cowok baju biru tua sambil mengambil boneka putih yang selalu menggantung di balik pintu loker.
“Aahahahhaa.. ceritanya dulu ada anak SMP suka gantung tuh boneka terbalik.. supaya hujan”
“Lah terus hubungannya sama lo apaan? Lo tukang jual boneka?”
“Kalo hujan, si cewek itu bisa ketemu gue di bis.. Terus liatin gue gitu. Padahal dulu gue kesel banget kalau hujan pagi-pagi, soalnya nyokap gue larang gue bawa motor kalau hujan. Bete banget kan?. Nah, pas si cewek itu mau pindah.. dia nyamperin gue terus ngasi boneka itu. Terus dia ceritain dah perasaannya ke gue. Dan semenjak itu bray.. Gue jadi ikutan seneng kalau ada hujan. Jadi gue terusin kebiasaannya”
Cerita si cowok yang pakai baju hitam itu
Caca terhenti langkahnya karena mengenali cerita itu.
“Lah terus Yo.. gimana kabar tuh cewek? Nama bonekanya apa sih? Anak pocong?”
“Gak tau.. Sampai sekarang juga gue gak tau nih boneka apa namanya. Siniin bonekanya!! Gue seneng banget tuh sama itu boneka”
Jawab si cowok baju hitam sambil merebut boneka yang ada di tangan temannya, tapi Boneka itu malah jatuh sampai kedepan Caca. Caca pun menunduk dan memungutnya.
“Ini namanya Teru Teru Bozu, orang Jepang menganggap ini boneka penangkal hujan”
Kata Caca sambil berjalan menghampiri kedua laki-laki itu kemudian memberikan boneka yang di pungutnya.
Cowok baju hitam itu masih terdiam karena tidak percaya dengan matanya sendiri.
“Kak Yoga?” Kata Caca yang heran melihat Yoga yang melihatnya tanpa berkedip.
“Eh iya.. Ini kamu kan?” Tanya Yoga yang terbata-bata melihat Caca yang dulu lugu, polos dan anak-anak banget kini tumbuh menjadi gadis cantik.
“Iya kak.. Ini Caca. Ini bonekanya. Makasi ya masi di simpen bonekanya”
Jawab Caca sambil memberikan boneka pemberiannya dulu.
“Thank’s God..” Gumam Yoga
“Hmm?”
“Eh nda.. Bray, nih cewek yang gua ceritain tadi..” Bisik Yoga ke temennya
“Bening bray…” Gumam teman Yoga
“Kalian bicarain apa sih?”
“Enggak gak ada kok.. hehehe” Jawab Yoga dan temannya bersamaan yang salah tingkah.
Tiba-tiba hujan turun tidak deras namun mampu memecahkan suasana canggung di antara mereka berdua.
“Hujan kak..” Kata Caca sambil menoleh ke arah luar
“Iya.. Menyambut kedatanganmu..”
“Semoga lebih sering hujan ya kak?”
“Biar gak hujan pun, kita bakal ketemu terus kok..”
Jawab Yoga sambil tersenyum kearah Caca, kemudian di balas dengan senyuman juga oleh Caca.
Sekian

Cerpen Cinta - Maafkan Aku

Cerpen Cinta

“Huft...” Seorang cewek berparas manis menghembuskan nafas berkali-kali.

“Lo kenapa sih? Daritadi menghela nafas kayak ikan kehabisan oksigen!” Komentar cewek berambut sebahu.

“Gue bingung, gimana gue harus bilang sama Azzam soal kepindahan gue ke Jakarta.”

Cewek bernama Ajeng tersebut menoleh pada Nidya, sahabatnya. “Lo beneran mau pindah ke Jakarta?”

Nidya mengangguk. “Bokap gue harus ngurus bisnisnya disana. Gue bingung, Jeng! Lo tahu kan akhir bulan Azzam ulangtahun, sedangkan lusa gue udah harus pindah.”

“Hei! Cewek-cewek lagi pada gosipin apa nih? Kayaknya seru banget.” Azzam, cowok yang sedang menjadi topik perbincangan Nidya dan Ajeng tiba-tiba muncul.

Ajeng melirik Nidya sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Kita lagi ngebahas soal kepindahan Nidya ke Jakarta.”

Nidya membungkam mulutnya, dia tak percaya dengan jawaban yang dilontarkan Ajeng. Sungguh, hatinya belum siap untuk menjelaskan semuanya pada Azzam.

“Pindah? Nidya mau pindah ke Jakarta? Lo bercanda kan, Jeng?” Azzam bertanya gusar.

“Gue serius! Kalau lo nggak percaya, tanya aja tuh sama orangnya.”

Azzam menggeser duduknya disamping Nidya. “Sayang, benar kamu mau pindah ke Jakarta?”

Nidya menggigit bibirnya. “Iya, lusa aku harus pindah.”

“Kenapa kamu baru bilang sekarang?” Azzam menatap mata Nidya.

“Aku--aku takut! Kalau aku cerita, kamu akan memutuskan hubungan kita.” Dua bulir kristal bening menetes dari kedua pipi Nidya. “Aku belum siap kalau semua itu terjadi.”

“Sayang, kenapa kamu bisa punya pikiran sepicik itu? Aku nggak mungkin memutuskan hubungan kita cuma gara-gara kepindahanmu.” Azzam menghapus airmata Nidya. “Atau mungkin kamu yang ingin mengakhiri hubungan ini?”

Nidya menggeleng kuat-kuat. “Itu keinginan terakhir dalam hidupku.”

“Tapi kamu harus janji, kamu tetap harus datang pada pesta ulangtahunku. Oke?” Azzam mengusap lembut rambut Nidya.

“Ehem! Bisa nggak kalian akhiri acara drama mellownya? Gue empet nih cuma jadi obat nyamuk.” Ajeng menyeletuk.
*
Tiba saatnya Nidya harus pindah. Sayangnya Azzam dan Ajeng tidak bisa mengantarnya karena harus ikut pelajaran di sekolah. Terlebih lagi hari ini ada tiga ulangan, jadi Nidya harus mengerti bahwa kekasih dan sahabatnya tidak bisa berada di Airport untuk melepas kepergiannya.

Sesungguhnya Nidya merasa sedih harus jauh dari Azzam, hubungannya yang sudah berlangsung hampir dua tahun apa sanggup bertahan saat jarak memisahkan? Dirinya takut, Azzam akan melupakannya. Atau mungkin dia yang melupakan Azzam?
*
Hari baru, kota baru, suasana baru dan sekolah baru. Nidya menjejakkan kakinya malas menuju ruang Kepala Sekolah, ditempat dia akan menuntut ilmu. SMA Taruna adalah salah satu SMA favorit yang terletak di Jakarta Pusat. Kini, Nidya menjadi salah satu penghuni disana.

“Kamu murid pindahan dari Surabaya itu kan?” tanya seorang lelaki berkumis tebal yang tak lain adalah Kepala Sekolah SMA Taruna.

“Iya, Pak!”

“Kamu masuk dikelas XI IPA-2, saya sudah menyuruh ketua kelas untuk kesini.”

Tok..Tok..Tok..

“Permisi, Pak!” Seorang cowok bersuara bariton memberi salam dan masuk kedalam ruangan.

“Farid, ini murid pindahan yang Bapak ceritakan. Tolong kamu bantu dia beradaptasi selama beberapa hari.” Ucap Kepala Sekolah pada cowok bernama Farid itu.

“Nidya, mulai sekarang kalau tidak ada yang mengerti kamu bisa tanyakan pada Farid.” Lanjut Kepala Sekolah mengagetkan Nidya yang sedang asyik menunduk menekuri sepatunya sambil memikirkan Azzam.

Demi kesopanan, akhirnya Nidya menoleh pada cowok disampingnya dan tersenyum. Tapi perlahan senyumnya lenyap ketika mengenali sosok cowok itu. “Farid? Kamu Muhammad Al Farizzi kan?”

Farid mengangguk. “Dan kamu Nidya kan?”

“Kalian sudah saling mengenal? Bagus kalau begitu! Tapi lanjutkan nostalgianya diluar, Bapak banyak tugas yang harus dikerjakan.” Tegur Kepala Sekolah dengan halus, melihat kelakuan kedua anak didiknya tersebut.

“Maaf, Pak! Terimakasih.” Nidya meninggalkan ruang Kepala Sekolah diikuti Farid di belakangnya.

Nidya berjalan cepat, dia mengutuk takdir yang mempertemukannya lagi dengan Farid. Sungguh, Nidya enggan harus bertatap muka dengan cowok itu.
“'Nidya! Tunggu! Kenapa lo menghindari gue?” Farid mencekal tangan Nidya, menahannya pergi.

Nidya menepis pegangan tangan Farid. “Jangan sok akrab!”

“Tapi bukankah hubungan kita memang akrab? Apa lo lupa semua kenangan tentang kita?”

“Hah? Setelah tiga tahun lo menghilang, sekarang lo bilang kenangan kita? Buat gue, kenangan kita udah mati!”

“Gue minta maaf, Nid. Sungguh gue gak bermaksud ninggalin lo begitu aja. Gue bisa menjelaskan semuanya.” Farid menatap Nidya sendu.

“Maaf, tapi penjelasan lo sudah terlambat! Sekarang gue sudah punya kekasih yang mencintai gue seperti gue mencintainya.”

Farid terenyak mendengar perkataan Nidya, padahal selama ini dirinya selalu menanti Nidya. Hatinya tak pernah lepas dari sosok dan nama Nidya. Tapi, dengan gampangnya Nidya berubah? Melupakannya begitu saja?
***
“Hallo? Azzam?” Nadya bersuara ketika pada deringan kelima akhirnya Azzam mengangkat telepon.

“Sori, gue Ajeng. Azzam lagi sibuk, Nid. Lo tahu kan, lusa Azzam ada pertandingan break dance?”

Sejenak, Nidya merasa kesal. Kenapa sudah dua hari ini Nidya telepon Azzam, selalu saja Ajeng yang mengangkat. “Please, bentar aja, Jeng! Gue kangen sama Azzam.”

“Gimana ya? Lo tuh harusnya bisa ngertiin Azzam, dia butuh banyak konsentrasi. Ntar gue sampein deh ke Azzam.”

Tutt..tutt..tutt
Telepon diputus

“Apa sih maksud Ajeng? Kenapa sekarang dia berubah?”

Memang sebenarnya Ajeng adalah teman Azzam dari kecil. Sedangkan Nidya baru mengenal Ajeng dua tahun belakangan ini.

Farid menepuk bahu Nidya. “Lo kenapa, Nid?”

“Gue kangen Azzam--cowok gue. Udah dua hari dia gak ada kabar.”

“Daripada lo sedih dan manyun terus, mendingan lo ikut gue sekarang.” Tanpa menunggu jawaban Nidya, Farid menarik pelan tangan Nidya dan menuntunnya ke mobil.

“Sebenernya kita mau kemana sih, Rid?”

“Ketempat favorit lo saat lo sedih.”

Farid menepikan mobilnya di parkiran Ancol.

“Mau apa kita kesini?”

“Kan tadi gue udah bilang kalau gue mau ngajak lo ke tempat favorit lo, biar lo gak sedih lagi.” Farid tersenyum. “Sekarang mending lo turun.”

Nidya menuruti Farid, tapi tetap saja pikirannya masih belum bisa lepas dari Azzam.

Nidya tertegun ketika Farid mengajaknya masuk ke suatu tempat bertuliskan 'Planetarium'. “Lo masih ingat?”

“Gue selalu inget apapun tentang lo. Lo kan selalu bilang, saat pikiran lo lagi kalut atau sedih semua bisa terobati saat lo menatap bintang.”

Nidya menitikkan airmata. Entah apa yang membuatnya menangis, Azzam atau Farid?

“Kenapa lo nangis? Lo gak suka?”

Nidya menggeleng.

“Atau lo ingat soal cowok lo? Lebih baik lo lupain cowok yang cuma bisa buat lo nangis.” Farid menyentuh dagu Nidya dan mendongakkannya. “Disini ada gue, yang lebih perhatian sama lo. Lupain aja cowok lo itu.”

“Gue sayang sama dia...”

“Sstttt....” Farid mendekatkan wajahnya pada Nidya, dengan perlahan tapi pasti Farid mengecup lembut bibir Nidya.

Untuk beberapa saat Nidya menikmati kecupan lembut itu. Tapi tiba-tiba bayangan Azzam terlintas di otaknya.

“Lo apa-apaan sih!” Nidya menampar Farid dan pergi meninggalkannya.
***
Sudah beberapa hari ini Nidya menghindari Farid. Bahkan untuk sekedar melihat wajahnya saja Nidya malas.

“Ya Tuhan, semoga Azzam yang angkat.” Nidya berdoa dalam hati ketika menekan tombol hijau di handphonenya.

“Hai sayang, kok tumben telepon?” Suara Azzam terdengar lembut di seberang sana.

“Azzam? Kemana aja kamu? Aku telepon kamu selalu sibuk.”

“Maaf sayang, kamu kan tahu kalau aku ada turnamen break dance. Dan aku senang banget kelompokku maju ke babak final.”

Mendengar suara Azzam yang bersemangat entah kenapa Nidya jadi tidak ingin marah lagi.

“Sayang, maaf ya aku harus latihan lagi. Nih ada Ajeng, katanya dia kangen mau ngomong sama kamu.”

“Oke deh, semoga kelompok kamu jadi juara ya. Love you.”

“Makasihhhh sayang.”

“Kenapa Azzam gak balas ucapan cinta gue? Apa dia gak denger?” Nidya berkata lirih.

“Lo pengen tahu kenapa Azzam sekarang berubah sama lo?” Tiba-tiba suara Ajeng terdengar dari seberang sana.

“Ajeng? Emang lo tahu kenapa Azzam berubah?”

“Sebenernya gue gak enak mau cerita sama lo. Tapi karena lo temen gue, jadi lebih baik gue kasih tahu lo yang sebenernya.”

Nidya makin penasaran dengan perkataan Ajeng yang dirasa berputar-putar. “Soal apa?”

“Udah lama Azzam curhat sama gue kalau dia jenuh sama hubungan kalian. Sebenernya dia pengen mengakhiri semuanya, tapi dia menunggu waktu yang tepat.”

“Hah? Maksud lo apa?”

“Kalau lo emang sayang sama Azzam, sebaiknya lo yang mengakhiri hubungan kalian. Daripada Azzam tersiksa harus terus berpura-pura mencintai lo.”

“Lo--bercanda kan, Jeng?”

“Buat apa gue bercanda soal beginian? Apa lo gak ngerasa kalau Azzam ngejauhin lo? Setiap lo telepon selalu gue yang angkat, itu karena Azzam malas mau ngomong sama lo.”

“Oke...kalau itu membuat Azzam bahagia gue rela.” Nidya memutuskan sambungan telepon dengan gemetar, kristal bening perlahan mengalir dipipi tembamnya.

***

Satu minggu sudah Nidya tidak pernah lagi menghubungi Azzam, begitu juga sebaliknya Azzam tidak pernah menghubungi Nidya. Nidya amat sangat terpukul mengetahui ternyata semua perkataan Ajeng benar adanya.

Bahkan, hari ini saat ulangtahun Azzam, Nidya sengaja melupakannya. Ucapan ulangtahun maupun kado yang sudah dipersiapkannya kini sudah ada ditempat sampah.

“Nid, sebaiknya lo sekarang ikut gue.” Farid mengagetkan Nidya yang sedang asyik merenung.

“Kenapa sih lo selalu ganggu gue? Semenjak lo datang hidup gue hancur!”

“Gue minta maaf udah bikin hidup lo hancur.” Farid terpukul. “Tapi...sebaiknya lo sekarang lo ikut gue. Karena ini antara hidup dan mati.”

“Lo ngomong apa sih? Gue gak paham sama sekali.”

“Kalau gue jelasin sekarang keburu terlambat.” Dengan tergesa Farid menarik tangan Nidya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan Nidya diam saja, pikirannya sibuk menerka-nerka kemana Farid akan mengajaknya.

“Rumah Sakit Fatimah? Ngapain kita kesini? Siapa yang sakit?”

“Penjelasannya nanti aja, mending sekarang turun.”

Nidya menuruti Farid dan segera turun dari mobil. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Pikiran buruk silih berganti melintas dipikiran Nidya.

Farid setengah berlari sembari menggandeng tangan Nidya. Perjalanan mereka berakhir didepan kamar bertuliskan Anggrek 15.

“Ajeng? Kenapa lo ada disini?” Nidya kaget melihat Ajeng sedang berlinangan air mata. “Kenapa lo nangis?”

“Ngapain lo kesini? Belum cukup lo bikin Azzam menderita? Semua gara-gara lo!” Ajeng mendorong tubuh Nidya hingga tersungkur.

“Azzam? Kenapa lo bawa-bawa Azzam? Ada apa sebenernya?”

“Padahal gue udah bohongi Azzam! Gue bilang lo selingkuh, tapi dia gak percaya. Akhirnya dia nekat datang ke Jakarta, tapi sesampainya disini gue ancam dia kalau gue akan bunuh diri! Saat gue berdiri ditengah jalan, Azzam mendorong gue ketika ada truk mendekat!” Ajeng semakin murka. “Semua ini gara-gara lo! Kalau Azzam gak kenal sama lo, semua ini gak akan terjadi! Dan pastinya Azzam akan jadi milik gue! Padahal hari ini hari ulangtahun Azzam!”

“Azzam kecelakaan?”

“Ajeng! Kenapa lo nyalahin Nidya? Dia gak salah apa-apa!” Farid angkat bicara. “Lebih baik kita masuk kedalam aja.”

Nidya langsung berlari ketika melihat tubuh orang yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya. Bermacam-macam selang menancap ditubuh Azzam.

“Zam, kenapa kamu? Jangan tinggalin aku, bangun dong!” Nidya mengguncang pelan bahu Azzam.

“Maafin aku, Zam! Aku sayang sama kamu! Buka mata kamu.” Nidya sesenggukan.

Azzam membuka matanya. “Nid..ya..?”

“Azzam? Kamu kenapa? Tolong cepat sembuh, aku butuh kamu.”

Azzam tersenyum sayu. “Ak..u ras..a wak.tu ku uda..h ga..k bany..ak lag..i..”

“Kok kamu ngomong gitu sih?”

“Jan..gan sed..ih sayan..g, mana u..capan ula..ngtah..un bu..at ak..u?” Azzam mencoba tersenyum.

“Happy Birthday sayang! Kamu harus sembuh, kita rayakan ulangtahunmu sama-sama!” Nidya mengecup bibir Azza lembut. Tubuhnya gemetar karna menahan tangis yang kian menjadi.

“Zam, maafin gue. Gue udah egois dan buat lo jadi begini.” Ajeng mendekati Azzam.

“Gu..e ud..ah maaf..in l..o, tolo..ng jaga..in Nid..ya. Lo haru..s bertema..n bai..k sam..a di..a..”

“Kenapa kamu ngomong gitu, Zam? Jangan pergi tinggalin aku! Aku butuh kamu disini.” Airmata Nidya semakin deras mengalir.

“Ak..u saya..ng sam..a kam..u..” Perlahan Azzam menutup matanya dan monitor jantung berubah menjadi garis lurus.

“Tidaaakkkkkkkkkk!!” Nidya berteriak kencang.

Farid langsung maju dan memeluk Nidya. “Lo yang sabar ya, hidup dan mati seseorang udah digariskan.”

Seorang dokter masuk dan mencoba alat pacu jantung untuk menolong Azzam. Tapi takdir berkata lain, Azzam sudah tidak bisa ditolong.

“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

“Azzaaammmmmmmm.” Nidya jatuh pingsan ketika melihat wajah orang yang dicintainya tertutup kain putih.

Begitu naas nasib Azzam, hari kelahirnya berubah menjadi hari kematiannya. Tapi itulah takdir, kita tidak bisa meramalkan hidup dan mati seseorang. Semuanya adalah kuasa sang Ilahi.

I LOVE YOU MY BEST FRIEND




Seperti biasa aku memulai hari hariku dengan sekoloah. Disekolah, aku duduk sebangku dengan Riski. Riski adalah sahabat terbaikku. Kita selalu bersama. Sebagai sahabat aku dan Riski takkan terpisahkan.
Selain Riski aku juga punya sahabat namanya Cika. Cika sangat baik sama aku. Cika tau semuanya tentang aku. Bagiku Cika gak punya kekurangan sebagai sahabatku.
Kemanapun aku pergi Riski pasti selalu nemenin aku. Dari dulu aku suka sama Riski, tapi aku malu untuk mengungkapkannya. Walau begitu dia tetap jadi sahabatku.
Aku terus mencoba memunculkan keberanianku untuk mengungkapkan semuanya kepada Riski. Tapi aku tetap gak bisa mengungkapkan semuanya.

Hingga suatu hari aku melihat Riski jalan sama Cika. Aku gak nyangka, itu sahabatku. Aku juga belum sempat mengungkapkan nya kepada Riski. Kenapa jadi begini. Aku benci kamu Ris. Padahal dari dulu aku udah mencoba untuk mendapatkanmu. Tapi kenapa kamu malah pergi bersamanya. Aku gak mau ketemu kamu lagi.
“Bela……”sapa Riski kepadaku.
Aku gak mau membalasnya, aku benci Riski. Aku hanya berlari menjauhinya. Aku mencoba melawan rasa sakit di hatiku. Tapi tetap gak bisa. Aku gak mau kehillangan Riski. Setiap dia memanggilku aku gak mau menghiraukannya. Riski lebih memili Cika, daripada perasaanku ini. Aku sering melihatnya berduaan di kantin. Semakin bertambah sayatan di hatiku ini.
Kenapa aku harus suka kepada orang yang tidak mengerti perasaanku. Tapi mengapa aku gak bisa ngelupain dia. Tuhan tolong jawab aku, kenapa ini semua terjadi. Aku gak sanggup jika Riski gak bersamaku.
Dimalam yang indah ini aku memandangin dua bintang yang andaikan itu aku dan Riski.
“Bela Bela. Pls jawab aku , aku tau kamu marah. Tapi kenapa?”teriak Riski di depan rumahku tiba tiba.

Aku ingin membalas panggilanya. Namun aku gak bisa, aku masih benci sama dia. Beberapa saat Riski udah gak ada di depan rumahku.
“untunglah, aku udah gak sanggup ngeliat wajahnya lagi. Aku membayangkan dulu kita bahagia bersama” kataku dalam hati.
Keesokan harinya, aku gak ngeliat Riski sama Cika. Aku mulai tenang. Riski udah gak sama cika lagi.
“Bela kamu marah ya sama aku?” Tanya Riski tiba tiba.

Aku hanya tersenyum memandangnya.
“Kamu mau gak pulang bareng aku?” Tanya Riski lagi.
“Boleh” jawabku singkat.
Sepulang sekolah aku pulang bersama Riski. Aku bercanda dan tertawa seperti dulu lagi. Aku senang, mungkin melebihi dari senang. Tiba tiba sesuatu terjadi. Mobil Riski menabrak sebuah mobil, dan aku dan Riski tak sadarkan diri.

Perlahan lahan aku mula membuka mata. Ternyata aku sudah ada di rumah sakit. Aku hanya melihat mama, papaku yang menangis di depanku.
“pa, ma kenapa nangis ?Riski mana? aku gak pa-pa kan?” tanyaku kepada mama dan papa.
“Tulang kaki kamu patah sayang, kamu harus pakai kursi roda”jawab mama sambil menangis
“ha……. Terus Riski mana?” tanyaku lagi.
“mama gak tau Riski kemana”jawab mama
Ris semoga kamu gak pa-pa ya, harapku dalam hati.
Sekarang aku menjalani hari hariku dengan berbaring di ranjang rumah sakit. Aku kesepian tanpa Riski. Aku berharap Riski kembali dalam keadaan sehat. Aku kangen kamu Ris
***

Hingga akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit. Tapi aku tetap gak bisa jalan, aku hanya bisa duduk tak berdaya di kursi roda. Aku masih berharrap Riski bisa kembali.
“mama apa Riski masih hidup”tanyaku kepada mama.
“mama gak tau, yang penting sekarang kamu doain Riski biar dia selamat.
Walau aku gak bersamamu, aku tetap sayang kamu Ris. Aku bakal tetap doain kamu seperti pesan mama ku.
Tuhan, kenapa ini semua terjadi? Apakah aku masih bisa bertemu Riski untuk yang terakhirkalinya. Tuhan tolong pertemuhan ku dengannya, aku gak bisa hidup tanpanya.
Berhari hari aku menunggu dan menunggu. Tiba tiba ada seseorang yang mengetuk ngetuk pintu rumahku. Ternyapa itu Riski, aku gak nyangka kamu bakal kembali Ris. Walau kamu juga duduk di kursi roda sepertiku, aku tetap sayang kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu Ris. Jangan tinggalin aku lagi ya

Aku dan Riski di bantu untuk duduk di kursi panjang depan rumahku.
“bel….. Aku Cuma mau ngasi kalung ini sama kamu. Kalung ini akan menjadi kenangan kita bersama” kata Riski
“makasi Ris. Tapi aku udah senang kok kamu kembali, AKU SAYANG KAMU”jawabku
“Aku tau, tapi kalung ini akan menjadi kenangan kita berdua. Karna aku tau aku udah gak bisa hidup lagi, dan nemenin kamu lagi seperti dulu.
I LOVE YOU FOREVER
Riskipun menutupkan matanya di dekapanku. Tuhan memang mengabulkan doaku untuk bisa bertemu dengan Riski lagi, tapi hanya untuk beberapa saat.
good bye Ris semoga kamu tenang di sana.

Tidak Berani Mengungkap Kenyataan

Aku dan Harry sudah bersahabat selama setengah tahun. Sejak pertama kali aku ketemu dia, aku merasa hari-hariku terasa lebih ringan. Aku masih ingat waktu itu adalah hari pertamanya sebagai murid baru di sekolahku. Dia lagi kebingungan nyari kelasnya dimana. Pertama kali aku lihat dia, aku sudah tahu kalau dia itu anak baru. Soalnya aku kenal sama semua murid SMA di sekolahku. Menurutku, dia keren banget, dari mukanya kayaknya orangnya ramah.
“Hai, murid baru ya?” tanyaku basa-basi.
“Hai, iya aku murid baru, kenalin namaku Harry Borrison, panggil aja Harry, salam kenal.” jawabnya.
Ternyata benar dia orangnya ramah. “Namaku Chella Distef, panggil aja Chella. Kamu lagi ngapain? Kok gak masuk ke kelas?”
“Aku mau sih ke kelas, tapi gak tahu kelasnya dimana?”
“Memangnya kamu kelas berapa?”
“Kelas XI IPA.”
“XI IPA? Berarti kamu sekelas sama aku. Yuk, aku anterin.”
Yes, aku sekelas sama dia, kayaknya dia bakal jadi cowok terkeren di sekolah ini yang pernah aku lihat.
“Makasih, ya.”
“No problem.”
……. Tet… tet.. tet… Bel pulang sekolah berbunyi. “Chell, pulang bareng yuk!” ajak Harry.
Seperti biasa aku dan Harry selalu pergi dan pulang sekolah bareng. Soalnya rumahku sama dia satu komplek, dan aku juga sudah terbiasa. “Tunggu sebentar, masih ada buku yang belum kumasukkin.”
“Sini, kubantu biar cepat.”
“Thanks ya.”
Seaampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan berbaring. Hari ini banyak sekali guru yang kasih catatan. “Lama-lama tanganku bisa patah nih.” desisku dalam hati.
Aku bangun dan duduk di depan meja belajarku, kulihat buku kecil yang sangat lucu. Kuraih buku itu dan aku menulis sesuatu di dalamnya. Saat ingin beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba mataku tertuju pada angka yang kulingkari di kalender. “Oh ya, seminggu lagi lagi ulang tahunnya Harry.” “Ini ulang tahunnya yang pertama bareng aku jadi aku harus kasih hadiah yang spesial.” kataku dalam hati.
Saat sedang bermimpi indah tiba-tiba handphoneku berdering, dari Harry. Aku langsung menjawabnya. “Halo, kenapa nelpon pagi-pagi?” tanyaku
“Hari ini kan hari Minggu, kita jalan pagi yuk.”
“Ok, ketemuan dimana?”
“Ketemuan di tempat biasa aja”
“OK”
Setelah menutup telepon, aku langsung bersiap-siap pergi ke taman. Taman di dekat komplek rumahku adalah tempat favorit kita. Tempatnya sejuk dan nyaman. Aku menunggu sambil duduk di kursi yang biasanya kududuki bersama Harry. “Sudah lama ya nunggu?”
“Belum kok baru aja nyampe.”
Kami berdua jalan-jalan sampai sejam dan Harry yang mengantarku pulang.
Besok adalah ulang tahunnya Harry, dan aku sudah mempersiapkan hadiah yang spesial buat dia. Aku mengajak dia ketemuan di taman. Keesokan harinya, aku bersiap-siap untuk pergi ke taman. Tidak lupa membawa cakenya.
“Chella mana sih? katanya ketemuan jam 5 sekarang sudah jam 6.” desis Harry dalam hati. Saat Harry berdiri dan berbalik melihat pohon beringin di depannya. Tiba-tiba matanya tertuju pada batu di bawah pohon itu. Batu tersebut bertuliskan nama Harry. Ia pun mengangkat batu tersebut. Kemudian ia melihat sebuah buku kecil di bawah batu itu. Ia mengambil buku itu dan ia merasa pernah melihat buku itu. “Kayaknya aku pernah lihat buku ini. Tapi dimana ya?” Ia berpikir sejenak. “Oh… Ini kan hadiah ulang tahun dari aku buat Chella. Tapi kenapa bisa ada disini?” Saat ia ingin membuka buku tersebut. Tiba-tiba handphonenya berdering, dari Chella. “Halo, apakah anda temannya Chella?” terdengar suara pria di ujung sana. “iya, tapi ini siapa ya?” “Kami dari kantor polisi, teman anda kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit.” Saat itu juga, jantung Harry seperti berhenti berdetak.
Ia langsung pergi ke rumah sakit sambil membawa buku kecil itu. Sesampai di rumah sakit, ia berlari menuju ruang kamarku. Aku terbaring di atas kasur dengan bantuan alat pernafasan. Saat itu, aku melihat Harry berdiri di depanku. “Harry, maafin aku, hari ulang tahunmu jadi berantakan.” kataku terbata-bata.
“Jangan dipikirin, yang penting kamu harus bertahan dan cepat sembuh kembali.”
“Harry, aku rasa aku gak bisa bertahan lama lagi. Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku…” aku tidak sempat melanjutkan kata-kataku.
“Chella, jangan pergi!”
Saat itu juga Harry teringat pada buku yang dipegangnya. Ia membuka buku itu dan membacanya. Dibacanya buku itu hingga halaman terakhir. “Dear Diary, Aku senang banget bisa kenalan sama Harry. Aku sudah lama ngerasa kalau aku suka sama dia. Gak tau dari mana datangnya perasaan ini. Aku mau ngungkapin ke dia kalau aku suka sama dia waktu ulang tahunku kemarin. Tapi aku gak berani, aku takut kalau dia gak punya perasaan yang sama kayak aku. Jadi, aku bakal bilang ke dia pas ulang tahunnya. Aku bakal kubur buku diary ini di bawah batu yang berukiran namanya. Harry, ini halaman terakhir buku diaryku. Sudah banyak yang kutulis tentang kejadian-kejadian dan hari-hari yang kita lalui bersama. Aku ingin kamu tahu kalau AKU SAYANG SAMA KAMU.”
Setelah selesai membacanya, air mata yang dari tadi ditahan Harry akhirnya pecah dan ia pun menangis. “Chella, aku juga sayang sama kamu, aku juga takut kalau kamu gak punya perasaan kayak aku. Coba aja kalau waktu ulang tahunmu aku berani ngungkapin perasaanku. Pasti hal seperti ini gak akan terjadi. Aku akan selalu mengenangmu. Maafin aku, Chella.”
THE END

Cerita Horor Nyata Salam Perpisahan Terakhir Dari Kekasih

Cerita ini di ceritakan dari mulut ke mulut berdasarkan pengalaman nyata pencerita pertama. Pencerita pertama ini adalah seorang gadis sebut saja namanya Ani dan dia mempunyai seorang kekasih sebut saja dengan nama Dito.
Pada suatu malam, entah kenapa malam itu terasa aneh. Saat itu hujan turun dengan derasnya dan Ani mencoba memaksakan diri untuk tidur. Tiba-tiba handphone nya berbunyi.
Sebuah pesan dari Dito untuk Ani, “Bagaimana keadaanmu?”.
Sebuah pesan singkat, Ani merasa terganggu, dia ingin tidur dan suara pesan dari Dito membuatnya terbangun kembali. Ani menelpon balik Dito, lama, sampai tiga kali Ani menelpon Dito dan akhirnya di angkat oleh Dito. Ani kemudian melihat jam dinding, dan menunjukan jam 00:13 (jam 12 malam lewat 13 menit / tengah malam),
Ani memarahi Dito lewat telpon, “Kamu apa-apaan sih, aku mau tidur tahu, jangan ganggu aku, kamu lihat udah pukul 00:13, kau tahu itu waktunya orang istirahat….., jawab aku jika kamu mengerti”.
Lama Ani menunggu jawaban Dito, hanya terdengar suara hujan yang amat deras dan napas dari Dito.
Ani kemudian bicara lagi, “Aku tahu kamu di sana, aku dengar napas mu. Kamu keluar malam ya, aku kan sudah bilang jika kamu jadi pacarku kamu tidak boleh keluar malam. Aku tidak suka kamu begitu”, lagi-lagi Dito tidak menjawab.
Ani kesal dan ingin mematikan telpon nya,
tapi tiba-tiba Dito bicara, “jangan matikan dulu, aku Cuma khawatir, mendengar bicaramu, aku yakin kamu baik-baik saja…”. Setelah mendengarkannya Ani lalu mematikannya tanpa berkata apapun.
Ani kembali mencoba tidur, dua jam berlalu lagi-lagi Ani masih belum bisa tidur, dia kembali melihat jam. Jam sudah menunjukan pukul 02:34 (jam setengah 3 malam/ dini hari) Dia haus dan keluar kamar menuju dapur melalui ruang depan dan saat itu tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Ani takut, tapi karena rasa penasarannya dia memberanikan diri untuk melihat dari balik jendela depan. Terlihat oleh Ani, Dito dengan keadaan basah kuyup berdiri di depan pintunya. Ani kesal dia biarkan Dito berada di luar dan tidak membukakan pintunya. Ani berusaha diam dan tidak berisik agar Dito mengira dirinya sudah tidur dan berharap Dito akan kembali pulang. Ani menuju dapur, setelah selesai minum, Ani kembali lagi ke kamarnya untuk tidur. Melewati ruang depan kembali dan mencoba melihat kembali ke luar rumah di balik jendela. Alangkah terkejutnya dia melihat Dito masih berdiri di sana. Dan tidak mencoba mengetuk pintu untuk ke dua kalinya.
Ani amat kesal, dia bukakan pintu dan memarahi Dito, “Dasar seharusnya kau ketuk pintu jangan hanya sekali, kamu tahu jam berapa sekarang?”.
Tiba-tiba Dito menjawab, “02:34 (kosong dua tiga empat)”.
Ani terdiam dan berpikir dalam hati,”Itukan waktu terakhir aku melihat jam”.
Ani kemudian bicara lagi, “mungkin sekarang udah lewat, masuklah, tidak enak di lihat orang”.
Dito tipe laki-laki yang sangat menghormati wanita, begitulah yang Ani kenal selama ini terhadap Dito, jadi Ani tidak merasakan was-was ataupun takut. Ani menyuruh Dito untuk duduk di sofa dan dia mengambilkan handuk dari dalam kamar mandi. Saat kembali, Ani memberikan handuk itu kepada Dito
“Makasih”, jawab Dito. Dito kemudian melap wajahnya yang basah kuyup.
Ani bicara kepada Dito,”Ada apa?, tumben kamu bertamu malam-malam ke rumah ku”.
Dito menjawab, “aku senang, kamu masih mau membukaan pintu untuk ku, aku Cuma ingin minta maaf kepadamu”.
Ani mendengarkan Dito dan memegang tangannya Dito, “kamu tunggu di sini. Aku akan bawakan pakaian ayahku untuk kamu”.
Ani yang takut Dito nanti sakit mengambilkan pakaian ayahnya, karena orang tuanya lagi pergi Ani langsung mengambil pakaian ayahnya dalam lemari dan bergegas untuk ke ruang tamu.
Tiba-tiba Handphone Ani berbunyi, telpon dari Dito, “Hallo!”, suara perempuan terdengar. Ani langsung mematikan telponnya. Ani sempat marah dan mengira handphonenya Dito ada pada gadis lain, tapi dia kemudian berpikir selama ini Dito selalu menyendiri dan satu-satunya cewek yang dekat dengannya adalah dirinya.
Handphonenya berbunyi lagi, dari Dito kembali, dia mengangkatnya, “Iya Hallo, ini dengan siapa?”.
Kemudian di jawab lagi oleh suara perempuan dari hanphonenya Dito, “Ini dari RSUD …. . Dito nama pemilik handphone ini sesuai dengan KTP yang kami temukan. Dari nomor kontaknya Cuma ada nomor anda saja. Pasti anda orang dekat Dito. Saya mengabarkan Dito mengalami kecelakaan Dini hari pukul “00:13” dan menghembuskan nafas terakhirnya pukul “02:34” dini hari. Sebelumnya dia sekarat dan sempat di rawat di sini….”.
Ani terdiam, tidak bisa berkata-kata. Dia berlari menuju ke ruang tamu. Dia tidak menemukan Dito di sana dan hanya melihat handuk yang dia berikan kepada Dito sebelumnya. Dia kemudian menangis sejadi-jadinya.
Ke esokan paginya dia ke rumah sakit tempat mayat Dito berada. Dia melihat wajah Dito untuk terakhir kalinya di kamar mayat itu, Ani tersenyum dan memegang tangan Dito. Dari seluruh tubuh Dito semuanya terasa dingin, kecuali tangan Dito yang dia pegang saat malam itu terasa hangat. Ani kemudian menangis lagi.
Dokter yang ada di sana bicara kepada Ani, “maaf dik Ani…”.
Ani membentak dokter itu, “Diam, dia kekasih ku, dan dia telah tiada, aku tidak sanggup menahan air mataku”.
Dokter itu menjawab, “Silahkan menangis dik Ani, tapi lepaskan tangan dokter. Dokter dapat panggilan tugas sekarang”.
Ani tersenyum malu, “maaf dok, saya kira tangannya Dito. Pantes masih hangat”.
Ani yang merasa sangat malu lalu berlari untuk ke luar dari kamar mayat. Namun nasibnya sial, bukannya keluar, Ani malah nabrak tembok di samping pintu ke luar. Dokter yang ada di sana langsung menghampiri Ani. Dokter melihat Ani tidak bernapas.
(Eh kok gitu, jika Ani tewas terus, ceritanya datang dari mana)
(Ternyata ceritanya belum selesai, cerita berikutnya dari dokter yang merawat Ani)
Melihat Ani tidak bernapas Dokter langsung membawanya ke ruang perawatan B13. Lalu dokter itu mencoba memacu jantungnya biar berdetak kembali. Tapi celaka, bukannya alat pancu jantung yang di letakan di dada Ani tapi setrika asli. Dokter yang panik melihat Baju Ani hangus, kemudian menutupi tubuh Ani dengan kain putih yang kebetulan ada di sana. Dokter itu lalu pergi meninggalkan ruangan B13 menuju ruang peralatan medis untuk mencari alat pancu jatung yang asli. Setelah itu dokter kembali ke ruangan B13. Dia kaget dan shock melihat ruangan itu kosong.
Dokter itu berkata, “jika Ani itu tidak ada, terus yang aku tolong tadi siapa”. Dokter yang mengira dirinya menolong hantu menjadi stress dan gila lalu di masukan ke rumah sakit jiwa sampai sekarang.
(Bagaimana ceritanya jika dokter itu gila yang kasih cerita ini siapa?, dan bagaimana nasib Ani, jadi benar Ani itu hantu)
(Setelah di telusuri, sebelum dokter itu gila dia sempat cerita dengan petugas pembawa mayat. Jadi cerita selanjutnya berdasarkan dari petugas pembawa mayat sebut saja namanya Budi).
Budi tidak sengaja lewat di ruangan B13 tempat di mana Ani di rawat. Saat itu tidak ada siapa-siapa. Budi lalu mendekati Ani. Melihat Ani tidak lagi bernapas dan tubuh Ani di tutupi kain putih, Budi mengira Ani sudah tewas dan membawanya ke kamar mayat. Saat ingin memasuki ruang mayat, Budi tersandung handphone nya Ani dan terjatuh. Sehingga Budi tanpa sengaja melempar tubuh Ani ke lantai. Akibat benturan antara Tubuh Ani dan lantai membuat jantung Ani berdetak kembali. Ani bangkit, melihat Ani hidup kembali Budi ketakutan dan pingsan. Dia ambruk dan kepalanya terbentur ke lantai dengan keras. Sehingga Budi tewas seketika. Melihat kejadian itu Ani jadi panik dan berusaha melarikan diri agar tidak menjadi tersangka pembunuhan petugas kamar mayat. Awalnya Ani ingin melarikan diri dari pintu ke luar kamar mayat, tapi dia takut ada orang yang melihatnya keluar dari kamar mayat. Lalu Ani memilih untuk keluar lewat jendela yang ada di kamar mayat tersebut. Dan Ani berhasil keluar dari kamar mayat lewat jendela, tapi dia baru ingat. Kamar mayat di rumah sakit ini terletak di lantai 3. Ingin kembali ke kamar mayat tapi Ani sudah terlanjur terjun dari lantai 3. Akhirnya Ani tewas beneran.
(Kalau ingin tahu cerita ini dari mana, sedangkan Ani sudah tewas. Lebih baik jangan di pikirin. Dokter saja gila gara-gara mikirin yang beginian).
Tamat.

Cerita Lucu Abu Nawas { Telur dan Ayam }



Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda Harun al Rasyid tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.

Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.

Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.

Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya,

“Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?” “Telur.” jawab peserta pertama.

“Apa alasannya?” tanya Baginda.

“Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur.” kata peserta pertama menjelaskan.

“Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?” sanggah Baginda.

Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara

Kemudian peserta kedua maju. la berkata,

“Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan.”

“Bagaimana bisa bersamaan?” tanya Baginda.

“Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila telur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami.” kata peserta kedua dengan mantap.

“Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.

Lalu giliran peserta ketiga. la berkata;

“Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur.”

“Sebutkan alasanmu.” kata Baginda.

“Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina.” kata peserta ketiga meyakinkan.

“Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada.” kata Baginda memancing.

“Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri.” peserta ketiga berusaha menjelaskan.

“Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?”

Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara.

Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, “Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam.”

“Coba terangkan secara logis.” kata Baginda ingin tahu “Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam.” kata Abu Nawas singkat.

Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas. 

cerita lucu

Bejo : mak..... emak sakit ya???
Emak : iya jo...
Bejo : hmm...kita ke dokter yuk...
Emak : mau bayar pake apa'an....kan duit kita udah tipis jo..
Uhukk...uhukk
Bejo : kita jual si tole(kambing) aja mak..
Emak : tapi kan tuh kambing kesayangan elu....
Bejo : kan bejo lbh sayang emak...
Emak : terserah elu aja dah...
Bejo : ya udah..bejo jual ke pasar ya mak...
Emak : iye...inget ya jo...tuh kmbing bandot..lu jual jutaan...
Jangan mau kalo ditawar murah..sayang....
Bejo : iya mak..bejo juga tau...kn bejo dah capek2 ngerawat...
Kalo gitu bejo pamit ya mak...
#berangkat jual kambing

Tak lama kemudian

bejo : mak...kambing kita laku..jutaan...
Emak : alhamdulillah....
Bejo : pertamanya dia cuma nawar 500rb mak..
Ihh enak aja...kambingnya ditawar murah bnget...kagak bejo kasih...
Emak : bagus tuh jo..emang pembeli jman sekarang maunya murah mulu'...terus... Lu jawab apa wktu dia nawar gitu...
Bejo : bejo bilang...pesan emak kambingnya mesti dihargai jutaan pak...
Gitu mak...
Alhamdulillah....setelah mikir lama...
Akhirnya dia mau juga....harga jutaan..
Bejo : Memang berapa jo dia beli tuh kambing???berapa juta???
Bejo : setengah juta mak...
Hebat kan...sesuai pesan emak..jutaan...gimana???puas mak???
Emak : #*@?&@#*-+???
# semaput dadakan

===========================

Alkisah ada 3 pemuda sedang mempamerkan hp mreka

Junot :Gw kemaren bingung milih hp di mall ya udah gw beli I-Phone 5 ajah..
Xaor : Gw kemaren disuruh milih hp ama orang tua,ya udah gw milih BB aja deh*belum puas*
Agil : Gw kemaren mau beli hp tapi bingung banget loh,
Junot& xaor : knpa bngung?
Agil : soalnya semua hp itu ga pake kartu perdana semua..
Junot&xaor : *penasaran* kok gk pke kartu sih?
Agil : iya soalnya layarnya kecil sama cuma muncul angka digit dan +-x : doank!
Junot&xaor : ITU KALKULATOR BEO!!! *lempar ke kuburan*

===================================

Istri : "Pih, Mamih barusan lihat harga pakaian murah2 banget !!!
bener2 sangat murah pih !!Coba deh pih... Jas/Blazer cuman Rp.9.000,
Kebaya Rp. 8.000, Kimono Rp. 7.000, Daster Rp.5000, Kemeja Rp.7500,
Dan Safari Setelan Lkp hanya Rp.14.000, coba bayangin dech pih, murah
kan,.?? Dan masih banyak yang lainnya juga pih !!murah banget !!!"

Suami : "Dimana itu, Mih,.???"

Istri : "Toko baru di depan gang
kita tuh Pih..!"

==================================

Suatu pagi lewatlah seorang penjual daging."Dageeeng! Dageeeeennngg! !!" teriaknya. Seorang ibu rumah tangga yang
sedang sakit gigi sewot banget mendengarteriak an si tukang daging. Ibu : "Hei tukang daging!
Lu kagak punya otak ya....!!!???
"Tukang daging : "Wah
kebetulan gak punya, Bu. Hari ini daging semua..."

============================= 

GARA GARA SINYAL
Cowok:
aduh Bebz, nanti aja
telponnya, disini sinyal aku PUTUS
PUTUS ,,, !

Cewek : APPAAA!!! ?
tega kamu
ya,,, aku nelpon kamu dari paris ke indonesia kamu malah minta
putus !!! ! SALAH AKU APA COBA !!

Cowok: tuh kan, kamu salah
dengar,,, DISINI SINYALNYA JELEK!!!

Cewek: hikz-hikz-hikz... tega
kamu, kamu putusin aku karena, kamu bilang salah aku
karena aku jelek ???

Cowok:
Disini Aku nggak dapat
sinyal ! soalnya Operator aku
Ax*s lagi gangguan, aku sayang
kamu bebz !

Cewek: apaa!! kamu bilang? kamu
dpat gebetan baru, yang
namanya ANIS ? dan kamu lebih
sayang dia? tega kamu ! tega!

Cowok: ya alloh, Mati gue, Bukan
sayang, Aku minta kamu telpon aku sebentar lagi, Aku naik ke
menara dulu, ya,?

Cewek: apa?
oke, aku akan naik
menara eifel, dan aku akan
lompat, dan kamu nggak akan
ngeliat aku untuk selamanya ! dasar BUAYA! HABIS MANIS SEMPAK
DIBUANG !!!

Cowok: *#¥§%$€£
(NGUNYAH hp)

=======================================

Presiden bertanya pada ibu tua penjual kue,

Bpk : "Sudah berapa lama jualan kue?"
Ibu : "Sudah hampir 30 tahun.
Bpk : "Terus anak ibu mana, kenapa tidak ada yang bantu?" ...
Ibu : "Anak saya ada 4, yang
ke-1 di KPK,
ke-2 di POLDA,
ke-3 di Kejaksaan dan yang
ke-4 di DPR, jadi mereka sibuk
sekali pak..."

Presiden kemudian
menggeleng-gele -ngkan kepala karena kagum...

Lalu dengan percaya diri Bapak Presiden
berbicara kesemua hadirin yang menyertai beliau, "Meskipun hanya jualan kue, ibu ini bisa menjadikan anaknya sukses dan jujur tidak korupsi...karen -a kalau mereka korupsi,
pasti kehidupan Ibu ini sudah sejahtera dan tinggal dirumah
mewah..."

Lalu sambil mengarahkan mike
yang sedang di pegangnya ,Bapak Presiden kembali
berbicara kepada wanita penjual kue tersebut ...
Bpk : "Apa jabatan anak di POLDA, KPK,KEJAKSAAN dan DPR?"

Lalu dengan polosnya sang wanita penjual
kue tersebut itu berkata :"Sama... mereka berjualan kue juga disana ..."